15/11/13

cara terburuk untuk berangkat kerja

Belakangan ini Jakarta sekitarnya dilanda hujan mulu. Maklum, sekarang udah memasuki bulan kesekian yang berakhir dengan kata –ember, yang artinya kita harus selalu sedia ember di rumah untuk menampung air hujan yang datang tiap hari supaya jangan kebanjiran. 

Itu sih kata orang. Kalau kata gue, biar ditampung sebanyak apapun, kalau kebanjiran mah tetap aja banjir.

… dan karena hujan itu, gue mengalami kejadian yang paling sial ketika akan pergi ke kantor tadi pagi.

Jadi ceritanya begini…

*gelar tikar*

Karena hujan yang datang tak kenal lelah beberapa hari yang lalu, jalan yang gue lalui dari rumah ke kantor terkena banjir. Awalnya sih gue gak tau dan tetap berangkat dari rumah seperti biasa. Oh iya, rumah gue di daerah Cipondoh, Tangerang dan kantor gue ada di daerah Kebon Jeruk, Jakbar. Dan selama ini gue berangkat ke kantor melalui jalan tikus yang ada di perkampungan, melewati sawah dan sungai kecil yang ada jembatannya.

Gue berangkat dengan motor kesayangan gue lengkap dengan masker, jaket dan sarung tangan. Oke, sebenarnya perlengkapan tadi tidak akan memberikan kontribusi apapun dalam cerita ini, tapi gue sebutin aja karena gue berhutang budi ama mereka.

Ketika tiba di daerah Gondrong, gue lihat banyak mobil dan motor antri. Gue sih biasa aja, karena disitu lagi dibangun flyover untuk dijadikan jalan tol baru, jadi biasanya truk-truk yang ngangkatin material bangunan rada menghalangi jalan. Gue nyelip, nyelip dan nyelip dan sampai pada barisan depan antrian. Ternyata tepat dibawah tol yang sedang  dibangun ada banjir yang tingginya melebihi knalpot motor. Genangan air itu sampai beberapa puluh meter ke depan. Gue yang tidak punya keahlian menyetir motor di dalam genangan air pun langsung putar arah bersama dengan beberapa pengemudi motor lainnya. Gue gak mau ambil resiko motor gue mati ditengah jalan dan gue gak bisa benerinnya. Solusinya, gue memutar jauh dan berangkat ke kantor via Kalideres, melewati perempatan Cengkareng, sampai ke Puri Indah, lalu ke Kebun Jeruk. Walaupun jauh, tapi itu solusi terbaik waktu itu.

Itu terjadi 2 hari yang lalu.

Kemarin, karena takut masih banjir di daerah Gondrong, gue langsung inisiatif berangkat kerja via Kalideres. Yah, walaupun kemaren gak ada hujan, gue yakin air masih menggenang di bawah flyover yang lagi dibangun. Apalagi gue dengar-dengar gosip kalau kali yang seharusnya gue lewatin kalau gue berangkat via Gondrong itu meluap. Sehingga jalan disekitarnya juga tergenang banjir.

Nah, kemarin gue aman karena pergi pulang lewat Kalideres. Walaupun jadi lama, dan motor gue kotor banget karena jalanan yang becek, tapi setidaknya gue gak terjebak banjir.

Nah, pagi tadi adalah malapetaka buat gue.

Awalnya gue udah niat mau berangkat ke kantor via Kalideres, demi menghindari kemungkinan banjir. Tapi waktu Tulang gue lihat gue mau berangkat, dia nanya, “Motor lu kok kotor banget sih?”

Gue kemudian jelasin kalau jalan dari Kalideres sampai Cengkareng itu becek. Jadi tidak mungkin kalau motor bisa tetap bersih setelah melewati kubangan-kubangan lumpur yang berceceran disana.

“Jangan lewat dari Kalideres, dari Gondrong aja” sarannya kemudian. Ketahuilah bahwa gue tau jalan tikus via Gondrong ini dari dia. Sebelum menemukan jalur ‘emas’ Gondrong, gue pergi kekantor melewati Kalideres, yang menurut dia terlalu jauh memutar.

Emang benar sih.
“Tapi Gondrong masih banjir kayaknya, Lang” sahut gue sambil memakai helm dan sarung tangan.

“Udah reda pasti itu. Wong kemaren gak hujan seharian kok, hanya gerimis kecil. Pasti udah reda lah” katanya dengan sangat yakin.

Kemudian, dengan memegang teguh kata-kata paman gue, gue memacu motor ke kantor melewati jalan Gondrong. Gue pikir, karena dia sudah lama tinggal disini, pasti dia sudah hapal keadaan sekitar. Gue yakin banget itu. Lagian, gue malas kalau harus lewat jalur Kalideres, macetnya gak kenal ampun.

Saat memasuki jalan Gondrong, gue memperhatikan pengendara motor yang datang dari arah jalan tol yang sedang dibangun, sepatunya pada kering. Asik, berarti beneran udah reda nih, kata gue dalam hati.

Karena saat itu jalanan sedikit sepi, tidak lama kemudian gue pun tiba di TPK, yaitu dibawah flyover yang sedang dibangun, yang dua hari yang lalu tergenang air. Gue perhatikan ada barisan mobil, tapi hanya sedikit motor. Dan yang pasti, genangan airnya udah surut. Kalau kemaren airnya lebih tinggi daripada knalpot motor gue, sekarang tingginya dibawah knalpot motor gue.

Intinya, airnya udah surut.

Namun begitu, gue harus menyetir dengan sangat lambat, supaya air genangan itu tidak menciprat dari ban motor gue dan mengenai pengendara lain. Selain itu, gue juga harus meletakkan kaki di leher motor supaya tidak terkena cipratan air dari pengendara lain.

Setelah detik-detik menegangkan itu, akhirnya gue bebas dari jebakan banjir. Gue memacu motor gue dengan kecepatan tinggi sampai gue menemukan genangan yang serupa dengan yang sebelumnya. Kembali gue memacu motor dengan kecepatan sangat lambat dan meletakkan kaki di leher motor.

Setelah pencobaan kedua selesai, gue tenang. Gue pikir semua masalah banjir ini sudah selesai.

Sampai ketika gue tiba di dekat sungai kecil, di tengah jalan ada papan yang berisi tulisan yang mengatakan bahwa jembatan penyeberangan kecil yang disediakan terendam banjir setinggi hampir 1 meter.  Sebagai pengendara yang baik, tentunya gue tidak langsung percaya begitu saja. Gue dan beberapa pengendara sepeda motor lainnya tetap bertekad untuk membuktikan bahwa tulisan banjir tadi hanya bohong belaka.

Tapi kemudian kami harus menelan ludah kami karena yang terpampang didepan kami sungguh sebuah pemandangan yang tragis. Banjir setinggi pinggang orang dewasa dan anak-anak terlihat bermain bahagia di genangan air yang berwarna coklat itu. Tidak mungkin untuk melewati genangan air itu.

Putar balik.

Jalan itu tidak bisa dilewatin. Jadi kami semua mutar balik kearah kami datang tadi. Hanya, gue gak mau kembali melewati 2 genangan air yang membuat gue jinjit diatas motor. Akhirnya gue mencari jalan lain yang bisa membawa gue ke kantor.

Gue bertanya kepada salah seorang penduduk yang kebetulan menyaksikan tidakan putar balik yang kami lakukan tadi. Menurut penuturannya, ada jalan kecil yang bisa dilewati untuk menuju Puri Indah dan bebas banjir.

“Dari sini lurus aja, nanti belok kanan di perumahan itu. Ikuti aja jalannya, nanti sampai ke Puri” jelasnya sambil menujuk-nujuk arah jalan.

Gue pikir memang jalannya segampang itu. Belok kanan, masuk perumahan dan.. simsalabim.. langsung sampai ke Puri Indah. Ternyata jalan yang gue lalui banyak percabangannya, dan gue gak tau jalan mana yang harus ditempuh.

Gue berhenti sebentar. Waktu mengamati jalan, gue melihat ada seorang cewek yang memakai kemeja batik dan celana bahan melintas di depan gue dengan motor matic-nya. Dari style-nya sih gue yakin dia pasti mau kerja. Maka gue ikutin dia.

Gue ngerasa seperti dalam sebuah film detektif, dan gue adalah detektifnya. Gue seperti Conan Edogawa yang sedang menguntit Vermouth secara diam-diam… di jalan raya.

Kurang hebat apa aksi gue?

Belok kiri, belok kiri, belok kanan, lalu masuk gang kecil, belok kanan lagi, masuk jalan besar yang banyak mobilnya. Sepertinya jalan yang dia ambil benar.  Gue jadi yakin kalau dia memang mau kerja.

Sampai pada sebuah jalan kecil, dia kemudian menepikan motornya disebelah kanan jalan dan mulai bercakap ria dengan seorang wanita yang sedang menggendong anak. Gue berasumsi bahwa wanita itu adalah ibu si gadis yang sedang gue untit.

Satu fakta telah terkumpul. Mihihihi… *ketawa kejam*

Eh, Tunggu dulu. Berarti gadis itu sedang tidak menuju kantor dong? Lah, gue gimana?

Setelah terlepas dari gadis itu, gue terlantung-lantung. Tanya sana-tanya sini, akhirnya gue sampai juga di Puri Mall. Sedikit lagi dan gue akan sampai di kantor dan semua kesialan ini akan berakhir.

Hari ini tidak mungkin menjadi lebih buruk kan? Pikir gue dalam hati.

Tapi kemudian alam menganggap pikiran gue itu sebagai tantangan. Bukannya membiarkan gue menyetir santai ditengah-tengah kemacetan Jakarta yang sangat menguji kesabaran, alam malah memberikan hal lain yang lebih menakutkan.

Jadi waktu itu gue udah hampir sampai kantor. Tinggal satu perempatan lagi, belok kiri dan gue akan sampai di kantor tercinta. Saat itu terlihat barisan mobil yang lumayan panjang disebelah kiri jalan. Supaya tidak terkena macet, gue mengambil jalur tengah yang rada sepi.

Ketika gue hampir mencapai perempatan, lampu menyala merah dan semua kendaraan berhenti. Hanya pada bagian kiri jalan, di samping barisan mobil tadi, terlihat pergerakan motor secara perlahan.

Gue lalu mempraktikkan hasil latihan gue selama beberapa bulan mengendarai sepeda motor di Jakarta: nyelip diantara mobil. Dengan sigap dan yakin gue selip-sana-selip-sini untuk dapat sampai pada bagian kiri jalan yang bisa dilalui sepeda motor tanpa harus terjebak macet.

Pada saat gue melakukan ‘selip’ teakhir itulah kesialan itu terjadi.

Disamping gue ada mobil avanza silver yang sedang berhenti karena macet. Didepannya juga ada avanza warna hitam yang sedang berhenti, juga karena macet. Diantara kediua avanza itu, ada space yang cukup untuk diselipin sepeda motor. Kesitulah gue memacu motor dengan perlahan. Gue pasang lampu sign ke arah kiri. Saat setelah gue sampai di space itu, gue belok kiri. Tepat setelah ban motor depan gue melewati mobil avanza silver , gue lihat motor gede melaju dengan cepat dari sebelah kiri mobil avanza silver itu kearah gue.

Gue gak sempat bereaksi, hanya mulut gue yang menganga lebar saat itu dan tiba-tiba…

BRAAAK!!

Motor gede itu menghantam bagian depan motor gue.

Bagian depan motor gue terdorong keras kearah kanan dan badan gue terjembab kearah mobil avanza hitam disamping gue. Gue menjerit kesakitan karena merasakan sakit di bahu sebelah kanan gue. Sementara yang menabrak motor gue terjatuh dengan keras kearah kiri, menghantam trotoar dengan badannya.

Tak sempat mengurusi sakit, gue langsung menstabilkan posisi sepeda motor yang saat itu bersandar ke avanza hitam. Setelah posisi gue stabil, gue langsung membantu penabrak gue yang saat itu masih tersungkur di tanah. Keadaannya sangat buruk. Bahkan selama beberapa saat, dia hanya tersungkur ditanah dan tidak bangkit lagi. Tapi gue tau kalau dia masih hidup.

Ternyata kaki kirinya terjepit motor gede yang menimpanya.

Gue langsung pasang standar motor gue dan menghampirinya. Gue bantu mengangkat motornya tapi terlalu berat. Gue menghimpun tenaga dan mencoba mengangkatnya lagi. Kali ini berhasil.

Setelah motornya gue berdirikan, dia lalu bangkit sambil terpincang.

Gue yang memang belum pernah mengalami tabrakan atau jatuh dari motor sebelumnya merasa takut setengah mati. Ditambah lagi penabrak gue berbadan gede dan memakai jaket hitam, menambah rasa takut gue.

“Ma.. maaf mas. Gak sengaja” ucap gue terbata-bata. Saat itu lutut gue gemetar karena takut, terkejut dan lemas. Sebuah kombinasi yang tidak baik.

Saat itu gue mengharapkan sebuah pukulan atas kecelakaan yang (sepertinya) gue sebabkan, dan gue udah mempersiapkan badan gue untuk menerima rasa sakit dari pukulan yang akan dia beri. Tapi ternyata respon yang gue terima sangat berbeda dari yang gue bayangkan.

“Bukan. Gue yang minta maaf mas karena ngebut dijalan kecil” katanya sambil mengarahkan tangannya, ingin berjabat dengan gue.

Menerima respon yang demikian, gue langsung lega, walau masih gemeteran.

Gue kembali ke motor gue dan siap melanjutkan perjalanan. Sementara dibelakang gue sudah banyak antrian sepeda motor yang melihat kejadian tadi. Tapi, karena saat itu motor si penabrak gue berada di depan gue, gue menunggu dia untuk maju duluan.

Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau, tetapi dia belum juga memacu motornya. Dengan tertatih dia menuntun motornya menepi ke sisi trotoar dan mempersilahkan gue maju.

“Sekali lagi, maaf mas” kata gue saat melewatinya. Gue ingin segera cepat-cepat berlalu dari tempat itu dan melupakan semuanya.

Dia hanya melambaikan tangannya sambil mengecek kerusakan motornya yang lebih mahal dibandingkan motor butut gue.

Tapi kemudian, gue trauma. Akibat kejadian itu, gue menyetir motor ke kantor dengan sangat lambat. Kaca spion sebelah kiri gue udah gak berbentuk dan gue masih gemeteran.

Gue shock.

Pagi hari yang buruk untuk menuju ke kantor, ujar gue dalam hati.

---

Terimakasih alam, atas tantangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar