21/05/14

A friend in need is a friend indeed - a note from Bali


 Penerbanganku dari Jakarta ke Bali berlangsung lancar.

Aku tidak tau apa yang terjadi, tetapi tiba-tiba pesawat yang kutumpangi sudah mendarat di bandara Ngurah Rai. Oh well, aku tau benar apa yang terjadi. Aku tertidur selama penerbangan. Maklum, golongan darahku AB.

Begitu aku keluar dari gedung bandara, temanku melambaikan tangannya memanggilku.

Namanya Prima Kedoh. Seorang pria seukuranku tapi dengan badan yang lebih tegap dan berasal dari Papua. Pertama kali aku bertemu dengannya di Bandung. Waktu itu adalah tahun terakhir masa kuliahku, sementara dia baru datang langsung dari Papua untuk belajar intensif di Ganesha Operation yang ada di jalan Sumatera, Bandung dalam rangka persiapan SNMPTN. Entah bagaimana ceritanya, mungkin ini konspirasi alam, dia akhirnya ngekos bareng kelompokku. Jadi kami sering nonton bareng, karokean bareng, menggila bareng dll. Tentu saja dia lebih muda daripada aku. Ya, kalimat terakhir tidak kontekstual.

Dulu, kami sering menggodanya dengan menyanyikan lagu Edo Kondologit yang berjudul Aku Papua.

"Hitam kulit, keriting rambut. Aku Papuaaa~"

karena memang kulitnya hitam manis, dan rambutnya ikal tak beraturan.

Namun dibalik itu semua, dia orang yang sangat baik, berbudi pekerti halus dan terpelajar. Pada saat dia keterima SNMPTN di UNUD, kami bahkan sempat membuat video message sebagai ucapan perpisahan.

Kami sangat dekat dulu.

Karena itulah aku berani memintanya memintanya untuk menjadi host-ku selama liburanku di Bali.

"Lama sekali, Bang? Aku udah nungguin dua jam ini" katanya sesaat setelah kami bersalaman. Walaupun sedikit kesal, tapi tidak ada nada menuduh atau menyalahkan dalam suaranya.

"Maaf, Doh. Delay tadi." Jawabku sambil meminta maaf. Biasanya orang memanggil dia Prima. Tapi entah kenapa, aku lebih suka memanggilnya Kedoh.

Kami berjalan beriringan ke tempat dia memarkir motornya. Saat itu sudah pukul 11 malam dan aku tau dia sedang kelelahan karena seharian kuliah. Tapi dia masih bisa tersenyum begitu melihatku dan rela menghabisakan waktunya, yang seharusnya dia pakai untuk belajar, untuk menjemputku. Dia bahkan rela manahan kantuk demi tidak mengecewakan aku.

Another angel in disguise.

Aku benar-benar takjub akan hal itu. Seorang keturunan Papua sedang menjemput seorang keturunan Batak di pulau Bali.

Err.. setelah ditulis, kok jadi biasa aja ya?

Setelah tiba di tempat dia memarkirkan motornya, kami langsung berangkat menuju kosan-nya di wilayah kampus UNUD. Dia kelelahan dan aku pun kelelahan. Sejak berangkat dari kantor tadi, kerjaanku hanya duduk saja, di motor, di ruang tunggu, di dalam pesawat dan sekarang di motor lagi. Capek.

Tapi, seperti pepatah dari negeri seberang mengatakan:

A FRIEND IN NEED IS A FRIEND INDEED.

Aku aminkan pepatah itu.

Prima Kedoh benar-benar seorang teman yang bisa diandalkan.

Setibanya dikosannya, dia menawarkan aku untuk tidur dikasurnya sementara dia tidur dilantai dengan menggunakan kasur lipat. Padahal aku sudah bersikeras bahwa aku akan senang tidur dibawah, tapi dia malah mengacuhkanku. Sama-sama keras kepala. Akhirnya aku mengalah, aku tidur diatas kasurnya, sementara dia tidur di lantai. #eh

Tidak hanya itu saja. Entah kenapa, aku merasa dia terlalu baik. Selama beberapa hari di Bali, banyak sekali bantuan yang aku terima dari dia.

Dia menawarkan aku untuk menggunakan sepeda motornya selama aku di Bali, yang langsung aku tolak karena dia membutuhkannya untuk pergi ke kampus. Eh, sebenarnya ada alasan lain sih, aku tidak bisa mengendarai motor kopling, jadi aku tolak.

Dia membawa aku ketempat rental motor, membantu menawar harga sewa motor (walau tak berhasil), dan mengantarkan aku lagi untuk mengembalikan motor sewaan itu.

Dia mengantarkanku mencari oleh-oleh keliling Bali, mulai dari Pasar Sukawati sampai Joger.

Dia membelikanku obat anti bakteri ketika aku kecelakaan terkena karang sewaktu snorkeling di Blue Lagoon.

Dia menunjukkanku makanan 'wajib coba' khas bali dan mengantarkanku ke lokasi makanan itu. Lalu kami makan bareng deh.

Dia memberitahu cara masuk GWK gratis dan kami pun mempraktekkannya. Lumayan irit sekian ratus ribu.

Masih banyak bantuan lainnya yang aku lupa tiap detilnya. Sampai akhirnya dia mengantarkanku lagi ke bandara Ngurah Rai ketika aku akan kembali ke Jakarta.

Sementara aku hanya bisa membelikannya sekotak brownies Amanda rasa cokelat buatan Jakarta.

Aku percaya, ada waktunya untuk aku membalas kebaikannya nanti. Untuk sekarang, biarlah itu menjadi kenangan yang tertuang di blog ini.

---
PS: Sebenarnya awalnya aku ingin menulis tentang hari pertama di Bali. Tapi seiring dengan jalan cerita, tokoh Prima Kedoh terlalu baik untuk dilewatkan begitu saja. Akhirnya aku membuat post ini untuk mengenang kebaikannya bagiku selama di Bali. Juga kepada Imelda, yang menemani perjalananku di Bali bersama Kedoh. Terimakasih juga untukmu.

Berikut fotonya:

Sewaktu di Bandung. Kedoh pake Jaket biru.

Aku dan Kedoh di Bali Timur. Jaket birunya eksis.

Aku dan Kedoh di Sukawati. Masih ada jaket biru!

Kedoh dan Imelda, pasangan yang paling serasi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar