20/05/14

Go to Bali: A Bummer Start

Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Bali dalam rangka solo traveling pertama kali.

Keberangkatanku kebandara untuk pergi ke Bali diwarnai sedikit masalah. Oh well, mungkin bisa juga dibilang drama, karena ada kejadian yang mengundang emosi didalamnya.

Setelah aku memberikan surat cuti kepada atasanku beberapa hari yang lalu, aku bingung tentang bagaimana aku berangkat ke bandara. Ada banyak pilihan, tapi tidak ada yang menyenangkan. Sementara aku sudah membawa backpack ke kantor, yang diisi dengan snorkel gear, pakaian ganti dan 2 kotak Brownies Amanda rasa coklat untuk temanku di Bali, teman yang telah mengijinkan aku untuk tinggal dikosnya selama beberapa hari.

Aku adalah orang yang tau cara berterimakasih.

Jadwal awal penerbanganku seharusnya pukul 20.30. Sengaja aku memilih terbang malam supaya aku bisa berangkat setelah pulang kerja dari kantor. Tapi, beberapa bulan sebelum keberangkatan, Airasia mengirimkan email mengenai informasi perubahan jadwal penerbangan pesawat yang akan aku gunakan, dari yang awalnya pukul 20.10 WIB menjadi 19.00 WIB.

Aku panik. Bisakah aku sampai di bandara tepat waktu? Gate akan ditutup pukul 18:45. Sementara aku pulang kerja pukul 5 tepat. Hanya ada 90 menit untuk keluar dari kantor, pergi ke bandara dan makan malam. Memang sih tempat kerjaku di Jakarta Barat, tapi dengan pilihan transportasi yang minim, aku pantas untuk waswas.

Awalnya aku berencana untuk menggunakan sepeda motorku langsung dari kantor dan menitipkannya di bandara selama enam hari. Setelah mencari info tentang penitipan kendaraan bermotor di Bandara Soekarno-Hatta, aku mengurungkan niatku. Bukan apa-apa, hanya saja tarifnya terlalu mahal. Lagian, aku khawatir aku tidak bisa mengambilnya pada hari aku kembali ke Jakarta, karena penerbangan kembaliku adalah Bali-Bandung. Jadi aku batalkan rencana naik motor ke bandara.

Sempat juga terlintas pikiran untuk menggunakan Damri dari pintu tol Slipi. Aku sering mendengar cerita ada orang yang berhasil sampai ke bandara dengan menggunakan bus Damri yang melewati Slipi. Tapi kembali kuurungkan niatku mengingat jadwal keberangkatan bus Damri yang tidak menentu dan kemungkinan macet kearah bandara.

Pilihan yang tersisa hanya menggunakan taksi, yang aku taksir akan mahal.

Saat aku ceritakan masalahku dengan teman sekantorku, tiba-tiba dia memberikan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya. Dia menawarkan untuk mengantarkanku ke bandara dengan menggunakan sepeda motornya. Kebetulan rumahnya berada di daerah Kota Bumi yang berada dekat bandara. Inilah salah satu keuntungan berteman.

Saat itu aku merasa dia seperti angel in disguise.

“Tapi bisa sampai bandara jam 6 kan?” tanyaku memastikan.

“Bisa!” jawabnya pasti.

Tentu saja aku senang mendengar tawarannya. Hanya saja, dia berkata, “Tapi kalau pulang dari Bali, bawa kacang disco ya” sembari bercanda. Canda yang membuat aku tertawa kecut. Walaupun dia hanya bercanda, namun dengan kondisi aku berhutang seperti itu, mau tidak mau, aku harus membawakan kacang disco untuk dia. Itung-itung bayar utang. Impas.

Aku sudah kasihtau kan kalau aku tau cara berterimakasih?!

Dalam hati aku berpikir, ini adalah adalah hubungan pertemanan yang berharga. Ada ‘harga’ didalamnya.

Tepat pukul 5 sore, aku dan temanku sign out dari kantor dan langsung menuju bandara.

Dia memacu motor dengan kecepatan tinggi, sampai ketika kami tiba di Mall Puri Indah, hal yang sangat tidak aku inginkan terjadi.

Jalanan macet.

Dan macet paraaaaah.

Di depan kami terlihat antrian panjang kendaraan, dari mulai sepeda motor sampai truk yang sangat besar. Suara klakson terdengar dari segala arah, menambah riuh perjalanan ini. Sepeda motor menyalip setiap celah yang ada untuk menembus barisan kendaraan yang berhenti total. Tapi tetap saja, kami terperangkap di tengah macet.

Setelah bersusah payah keluar dari kelitan macet, 15 menit kemudian kami sudah berada di jalur besar satu arah yang bebas macet.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 17:30, dan kami masih belum beranjak dari kawasan Puri Indah.

Entah bagaimana nasibku nanti. Masa iya aku harus kembali kerumah dengan membawa backpack dan mengatakan kepada orang rumah, “ban pesawatnya kempes dan pompanya rusak, jadi gak bisa berangkat ke Bali”.

Kan gak lucu!!

Saat-saat terjepit seperti itu adalah saat-saat dimana orang teringat akan Tuhan. Tak terkecuali dengan aku. Dalam keadaan genting dan terjepit, aku langsung memanjatkan doa yang agak memaksa kepada Tuhan, memohon supaya secara ajaib macet itu terurai dan kami tiba dengan tepat waktu di bandara.

Tapi, DIA itu Tuhan. DIA tidak bekerja dengan cara kita.

Macet masih berlanjut dan kami hanya bisa mengulat sampai perempatan Cengkareng. Dan aku menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Sampai di perempatan Cengkareng pukul 17:45 sore. Macet benar-benar parah sampai-sampai kami harus berhenti selama lebih dari 10 menit menanti macet berurai. Mentok.

Tempat yang sama, waktu yang berbeda, dengan kondisi macet yang sama

Pukul 6 lewat sedikit baru kami masuk jalan Daan Mogot kearah Tangerang.

Temanku memacu motornya dengan kecepatan agak tinggi. Berkelit ke kanan dan ke kiri, menembus celah sempit diantara mobil, bus, angkot dan truk demi mengantarkanku tepat waktu. Dia tau dia sudah berjanji untuk tidak membuatku terlambat, dan sekarang dia sedang menggenapi janjinya.

Aku sangat menghargai dia akan hal itu.

Macet kembali menghadang ketika kami tiba di terminal Kali Deres. Tidak begitu parah, tapi tetap saja menghambat perjalanan kami. Saat itu sudah pukul 18:20. Hanya 25 menit lagi sebelum gate ditutup.

Dengan harapan yang semakin lama semakin menipis, aku duduk dengan gelisah diboncengan motor temanku.

Will I make it?

Will I make it? 

Pertanyaan itu terucap berulang-ulang dalam pikiranku. Sedikit kalut karena waktu yang tersisa tidak banyak lagi. Dan sedikit lega karena akhirnya kami terbebas dari macet.

Dalam kekalutanku, secara tidak sengaja aku mengeluh tentang buruknya penanganan transportasi darat di Jakarta. Macet adalah makanan sehari-hari. Tapi bukan berarti bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada yang segera bertindak. For a better Jakarta.

Kembali ke motor yang sedang kutumpangi.

Setelah lepas dari jeratan macet yang mematikan itu, temanku sekali lagi memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Kali ini dengan lebih cepat dari sebelumnya. Untungnya, jalanan setelah lewat terminal Kali Deres, jalanan langsung lancar.

Long story short, kami tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada saat injury time. Motor kami tiba di gate depan gedung bandara pada pukul 18:45. Segera setelah aku turun dari motor, aku mengucapkan terimakasih dan berlari ke gedung terminal. Memasuki pos pemeriksaan dengan tergesa-gesa dan langsung menuju counter pembayaran pajak bandara (or whatever they call it).

Selesai membayar pajak, tanpa liat ke kanan dan ke kiri, aku lanjutkan berlari ke waiting room penerbangan domestik. Aku yakin pitu pesawatnya belum ditutup dan aku akan berhasil masuk kedalam pesawa dan terbang ke Bali.

Antiklimasknya adalah: ternyata penerbanganku ditunda selama sejam. Aku terlalu sibuk berlari sehingga mengacuhkan informasi yang terpampang didepan mata.

BUMMER!!!

*garuk-garuk information board*

Antara bersyukur karena masih punya waktu istirahat dan makan malam sebelum terbang atau kesal karena luapan emosi yang terjadi dalam perjalanan ke bandara tadi.

Sigh~

Well, setidaknya aku punya kisah yang worth-mentionable dalam perjalananku ke bandara.

Ketika sedangg menuju ke Circle K yang ada di Ground Floor di gedung Terminal 3, aku mengirimkan SMS kepada temanku di Bali mengenai penerbanganku yang kena delay. Sambil memakan Pop Mie yang masih panas, aku merenungkan perjalanan singkat dari kantor ke bandara yang baru saja aku lewati. Sedikit konyol karena aku terlalu khawatir. Tapi cukup berkesan untuk dijadikan pemompa semangat liburan kali ini. Kalau di awalnya saja sudah cukup menantang seperti ini, aku yakin pasti sisa liburannya akan lebih seru dan menyenangkan.

Aku yakin itu.

Pasti!!.

*mulai ragu*

Ketika akhirnya aku sampai di waiting room, petugas AirAsia mengabarkan bahwa karena delay, penumpang akan dibagikan makan malam, padahal aku baru saja menyantap pop mie yang paling mahal yang pernah aku beli.
Makan malam dari AirAsia


Double bummer!!

2 komentar:

  1. itu macetnya -__- bikin enek dulu liatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yupp.. melihatnya saja sudah mual, tapi aku malah terjebak didalamnya >_<

      Hapus