21/05/14

Kejadian absurd di kantor

Hari ini dikantor ada 2 kejadian paling absurd yang pernah aku alami selama aku bekerja disana.

Kedua kejadian tersebut cukup membuat aku tertawa terbahak selama beberapa menit.

Dasar konyol.

Kejadian yang pertama adalah kejadian yang sedikit misterius. Sampai sekarang aku belum bisa mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Waktu itu kira-kira jam 10 pagi dan semua orang yang ada dikantor sedang sibuk bekerja di kubikel masing-masing. Aku juga saat itu sedang sibuk me-review sebuah dokumen milik sebuah bank swasta di Indonesia, bilang saja Bank B. Dimeja sebelah kiri ada laptop yang sedang membuka aplikasi pengolah kata, sementara di depan ada PC yang sedang menampilkan aplikasi TweetCaster. Bukannya apa-apa, aku hanya mau bilang kalau aku lebih fokus ke layar PC dibandingkan ke layar laptop.

Kubikelku terletak di lantai 3, bersama dengan beberapa orang karyawan juga. Biasanya jam segitu lagi hening-heningnya dikantor. Disaat yang tidak diharapkan, tiba-tiba hapeku berdering kencang, menandakan ada telepon masuk.

Sial, aku lupa mengaturnya kedalam mode Hening tadi pagi.

Dengan tergesa-gesa aku ambil hapeku dari kantong celana dan melihat layar hape untuk mencari tau siapa yang menelepon.

Ternyata yang sedang menelepon adalah nomor baru yang belum tersimpan di memori hape.

Dan nomornya dimulai dengan nomor 021. Berarti ini telepon kantor wilayah Jakarta.

Sebelum mengangkat, aku mengingat-ingat, apa aku ada janji dengan seseorang sebelumnya? Karena aku tau betul, tidak ada satupun temanku yang pernah (dan akan) meneleponku dengan telepon kantor. Tidak juga dengan keluargaku yang tinggal di Jabodetabek.

Jadi, siapa yang sedang menelepon?

Hanya ada dua kemungkinan: ini adalah telepon dari perusahaan tempat aku pernah mengajukan lowongan kerja atau ini adalah telepon dari JNE, soalnya kemaren aku baru kirim paket ke Palembang dengan menggunakan JNE.

Aku menjawab telepon itu dengan perasaan sedikit bingung dan penasaran.

“Selamat pagi” kata suara dari seberang sana. Suara seorang wanita. Suaranya enak didengar.

“Iya, pagi” sahutku masih kebingungan. “Ini dengan siapa ya?”

“Ini dengan Mawar Melati (nama disamarkan – red) dari Bank B cabang X” dia menjelaskan. “Bisa bicara dengan Bapak A?”

Bapak A adalah General Manager ditempatku bekerja dan Bank B adalah bank yang saat ini sedang berurusan dengan perusahaan kami dalam sebuah proyek. Bahkan pada saat itu aku sedang mengerjakan salah satu dokumen untuk Bank B ini.

Mendengar oknum-oknum yang terlibat, aku langsung berasumsi bahwa ini adalah telepon super penting.

Eh, tunggu dulu…

Kalau ini telepon yang super penting, kenapa Bank B malah menelepon aku? Ke hape lagi. Padahal dimejaku ada telepon kantor.

Ada yang tidak beres disini, pikirku.

Tapi, mengingat perusahaan kami sedang mencoba untuk menyelesaikan sebuah tender di Bank B, aku kesampingkan pikiranku yang aneh itu.

“Iya, mbak. Ini saya dengan Arga, asistennya Bapak A” jawabku berbohong.

Jelas berbohong. Aku bukan asisten General Manager. Aku hanya staff biasa. Tapi aku memilih untuk mengatakan bahwa aku adalah asisten General Manager supaya perwakilan Bank B yang sedang menelepon aku merasa diberi perhatian lebih oleh perusahaanku dengan memberikan akses langsung ke asisten General Manager. Ini untuk memberikan kesan bisnis yang baik. I’ve learnt it the hard way.

“Boleh saya bicara dengan Bapak A?” tanya wanita diseberang telepon.

“Wah, ada apa ya? Beliau lagi sibuk, Mbak” jawabku asal. Padahal meja Bapak A ada dilantai 2, sementara aku menjawab telepon di lantai 3. jadi aku tidak tau sebenarnya Bpak A itu sedang apa. Tapi bukan General Manager namanya kalau tidak sibuk.

“Saya ingin menanyakan sesuatu mengenai pelayanan bank kami, Pak.”

“OK. Sebentar ya, Mba. Akan saya beritahu beliau” jawabku sambil jalan turun ke lantai 2.

Saat tiba di meja General Manager, aku lihat beliau lagi sibuk… makan kacang tanah #BUMMER.

Aku tekan Mute pada hapeku dan mulai bicara kepada Bapak A.

“Pak, ada telepon dari Bank B cabang X. Katanya mau menanyakan tentang pelayanan gitu, Pak.” Sahutku ke Bapak B.

“Oh, ya? Tentang apa ya?” tanyanya kebingungan.

“Wah, saya juga tidak tau, Pak. Pokoknya dia mau bicara dengan Bapak” jawabku menegaskan.

“Sambungkan saja ke extension saya” katanya sambil mengupas kacang tanah.

“Umm.. teleponnya ke hape saya, Pak” jawabku sambil menunjuk hapeku.

“Loh, kok bisa?” dia makin kebingungan.

“Itu juga yang saya bingung, Pak. Tapi karena ini telepon atas nama Bank B, maka saya jawab, Pak. Mungkin saja ada untuk urusan proyek” tuturku panjang lebar.

Bapak A sedikit ragu.

Si Mbak dari Bank B pasti sudah jamuran menunggu.

“Kita tidak pernah ada proyek di Bank B cabang X loh” katanya kemudian.

Aku hanya cengok.

Supervisorku yang kebetulan duduk disamping Bapak A juga mengernyitkan keningnya. Bingung.

“Penipuan pasti nih” kata supervisorku.

Kami semua bertatapan.

Atas pertimbangan yang tidak matang, akhirnya Bapak A menerima telepon itu.

“Iya, halo..”

“Iya.. saya Bapak A”

“Tapi ini bukan nomor saya, Mbak.”

“Oh, baik.”

“Sejauh ini sih tidak ada masalah.”

“Iya.”

“Iya.”

“Baik.”

“Iya baik.”

Blablabla..

Satu menit berikutnya diisi dengan jawaban “Iya, baik” atau “Tidak ada masalah” dari Manager gue. Setelah itu, dia memutuskan hubungan dan menyerahkan hapeku kembali.

Aku menerima hapeku dan berdiri mematung disana. Menanti penjelasan atas peristiwa yang baru saja terjadi.

“Oh, itu..” katanya memulai penjelasan. “Saya pernah dulu banget transaksi di Bank B cabang X. Tapi itu dulu banget. Hanya sekali. Gak tau kenapa mereka baru telepon sekarang menanyakan palayanan mereka.”

“Dulu banget-nya itu kapan, Pak?” tanyaku memastikan.

“Hampir 3 tahun yang lalu kayaknya” jawabnya menerka-nerka.

“3 tahun yang lalu kan kita belum saling kenal, Pak?! Saya kerja diperusahaan ini baru 2 tahun. Gimana ceritanya mereka mencari Bapak melalui NOMOR HAPE saya?” tanyaku dengan kondisi mata membelalak, tidak percaya atas kejadian absurd yang baru terjadi.

“Wah, saya tidak tau” jawabnya sambil mengangkat bahu tanda tidak tau.”Pokoknya, kalau mereka minta nomor hape saya, jangan dikasih ya.”

“I–ini gimana ceritanya sih?” tanyaku pada diri sendiri.

Sampai saat tulisan ini diturunkan, aku, Bapak A dan supervisorku masih belum tau bagaimana ceritanya Bank B cabang X bisa menelepon hapeku untuk mencari Bapak A.

Tau darimana Bank B cabang X bahwa aku dan Bapak A satu kantor?

Dan yang lebih penting lagi, tau darimana Bank B cabang X nomor hapeku?

Ini adalah pertanyaan yang masih belum bisa terjawab.

Sambil merenungi kejadia yang terjadi tadi, akhirnya tibalah waktunya makan malam. Aku dan beberapa teman kerja sedang lembur mengerjakan sebuah proyek Bank I. jadi, dikantor kami ada aturan. Kalau lembur diatas jam 7 malam, kami akan dapat makan malam gratis dari perusahaan dengan biaya makan maksimal sekian puluh ribu. Menu bisa apa saja, yang penting masih dalam range yang ditentukan.

Malam-malam sebelumnya kami sudah memesan KFC, PHD, D’Cost, dll. Kebetulan malam ini kami memilih untuk memesan delivery Chiz n Chic, sebuah restoran yang agak terkenal di kawasan Binus.

Ditengah kesibukan mengerjakan dokumen, aku memilih menu Tenderloin Steak Extra Keju dengan saos Blackpepper.

Disinilah kejadian kedua berlangsung.

Setelah menunggu kurang-lebih 30 menit, akhirnya pesanan kami sampai. Pesanankku sendiri dikemas dalam kotak stirofoam warna putih.

Aku membuka pesananku dengan perasaan lapar. Ada French fries disubkotak kecil sebelah kanan, tenderloin steak di subkotak paling gede ditengah, ada sayuran cincang di subkotak lainnya. Ada saos yang dibungkus terpisah, bersama dengan keju dan saos blackpepper pesananku. Dan ada juga sendok makan yang terbuat dari bahan plastik.

Aku lihat-lihat lagi dibagian bawah kotak, mungkin ada yang keselip.

Tapi ternyata tidak ada. Hanya itu saja.

Lalu aku tanya sama orang yang menerima pesanan tadi, “Tadi waktu delivery-nya datang, gak dikasih pisau ya?”

“Enggak” jawabnya.

“TRUS INI GIMANA CARA MAKAN STEAK PAKE SENDOK PLASTIK???” tanyaku tidak percaya.

Yang ditanya malah tertawa kencang. Sompret!!

Ini gimana ceritanya sih disuruh makan steak pake sendok plastik? Pasti ini ngajak bercanda.

Karena tidak ada pilihan lain, aku coba juga makan steak-nya pake sendok plastik yang disediakan. Hasilnya? Sendoknya putus sementara steaknya tidak ternoda sedikitpun.

Ini delivery paling fail yang pernah gue alami.

Untung gue ingat, bulan lalu ada yang ultah dikantor pakai cake gitu. Kalau aku tidak salah, roti pemotong kue-nye masih ada sisa. Dengan penuh harapan, aku buka lemari pernak-pernik dikantorku dan dengan bangga menemukan pisau plastik bening didalamnya.

Jadi aku menghabiskan steak-ku dengan pisau roti dan sendok plastik yang sudah patah.

Bayangkan betapa besarnya perjuanganku untuk memakan steak yang sudah tidak panas itu.

Moral of the story (as I tweeted this evening): Jangan pernah pesan steak untuk menu delivery. Selain daginnya akan menjadi alot karena sudah dingin, gak dikasih pisau juga. Masa makan steak pake sendok plastic? Emangnya Limbad?

4 komentar:

  1. hahahah xD bisa bisa.. abis ini gak akan delivery steak deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang pernah delivery steak ya? Gimana ceritanya?

      Hapus
  2. Yang pertama agak mengerikan ._.

    BalasHapus
  3. Iya, kayak cerita horro di pilem I Know What You Did Last Summer >_<

    BalasHapus